Jumat, 27 Desember 2013

Komik Wayang Purwa 04



Untuk dapat membaca komik ini, komputer Anda harus sudah terinstal program WinDjView. Jika belum punya, silahkan di download di sini.

Pada  komik wayang Purwa episode ini diceritakan mengenai :

-          Kehidupan Hanoman di Swargaloka. Kapi Saraba, abdi ibunya, Dewi Anjani, menceritakan kepadanya mengenai kisah ibu dan paman-pamannya. Kemudian Hanoman pergi ke tempat para bidadari untuk menemui ibunya. Di tempat itu, ada bidadari yang mengatakan bahwa bulu hanoman menjadi putih karena terbakar terik matahari. Hanoman menjadi kesal dan diapun menelan matahari. Sang Hyang Jagadnata pun memerintahkan kepada Batara Narada untuk mencegah Hanoman melakukannya. Ternyata, bujukan Batara Narada tak mempan. Baru ketika dibujuk oleh ibunya, Dewi Andini, Hanoman mau mengeleuarkan kembali matahari yang telah ditelannya.

-          Dewa Wisnu menitis kepada Raden Arjuna Wijaya, putra dari  raja Maespati. Semar dan anak-anaknya menjadi punakawan di Maespati dan bertugas mengasuh Arjuna Wijaya.

-          Raden Sumantri dan Sukrasana adalah putra dari Resi Suwandageni. Meskipun saat bayi Sukrasana pernah dibuang oleh ayahnya, namun kemudian dia bertemu kembali dengan kakaknya. Pada saat Raden Sumantri sedang berlatih memanah di dalam hutan, datang raksasa yang ingin menerkamnya. Atas pertolongan Batara Narada, Sumantri dapat mengalahkan raksasa tersebut, dan mendapatkan pusaka panah Cakrabeswara. Akhirnya, Raden Sumantri mengabdi kepada Raha Arjuna Sasrabahu.

-          Raja Darmawisesa, penguasa negeri Widarba berkeinginan untuk melamar Dewi Citrawati. Dia membawa sejumlah besar pasukan dan harta benda untuk meminang Dewi Citrawati.

Untuk kisah selengkapnya, silahkan mendownload komik Wayang purwa episode 4 di sini.


Selasa, 24 Desember 2013

Komik Wayang Purwa 03



Untuk bisa membaca komik ini, Anda perlu menginstal program WinDjView terlebih dahulu. Untuk mendapatkan program ini, silahkan download di sini.

Pada episode ini, diceritakan bahwa :

Raden Sugriwa menangis di depan goa Kiskenda karena mengira kakaknya Subali telah tewas dalam pertempuran melawan Lembusura dan Maesasura. Atas saran abdinya, akhirnya Sugriwa mengantarkan Dewi Tara ke Suralaya, dan akhirnya dinikahkan pula dengannya.

Ternyata Subali tidaklah gugur, tetapi darah bercampur orak yang mengalir dari dalam gua adalah milik Lembusura dan Maesasura. Ketika Subali mengetahui bahwa Sugriwa telah menutup pintu goa, marahlah ia, dan lupa pada pesannya sendiri, yaitu jika ada darah bercampur otak mengalir dari dalam gua, maka itu pertanda bahwa dia telah gugur, dan Sugriwa harus menutup pintu gua.

Subali yang marah segera pergi ke Suralaya untuk menuntut haknya atas Dewi Tara. Diperjalanan, Batara Narada mencegahnya dan mengingatkannya pada janjinya sendiri. Sejenak Subali terdiam dan mengalah, namun tak berapa lama amarahnya kembali datang. Dia mendatangi Sugriwa di Pancawati dengan amarah yang menggelora. Sugriwa yang tersinggung dengan tantangan Subali meladeninya. Subali empat kalah, namun berkat ajian Pancasona, maka dia bisa hidup kembali. Akhirnya Sugriwa kalah dan terpaksa menyerahkan Dewi Tara kepada kakaknya, raden Subali.

Sepeninggal Dewi Tara, Sugriwa selalu bersedih. Akhirnya dia nekad untuk menantang kakaknya Subali demi merebut Dewi Tara kembali. Diapun menyerang Subali di Goa Kiskenda dengan segenap pasukan keranya. Pertempuran yang hebat pun kembali terjadi antara Subali dan Sugriwa. Sugriwa akhirnya kalah dan dijepit diantara dua batang pohon oleh kakaknya di Gunung Reksamuka. Sementara setelah berhasil mengalahkan Sugriwa, Subali kembali ke Goa Kiskenda. Singkat cerita akhirnya Dewi Tara hamil. Disaat Dewi Tara hamil itulah Subali kembali pergi bertapa.

Prabu Dasamuka yang sedang berburu tanpa sengaja bertemu dengan Subali yang sedang bertapa. Melihat kera sebesar manusia dan bertapa ngalong seperti kelelawar maka heranlah Dasamuka. Terlontarlah keinginannya untuk menjadikan Subali sebagai bahan pertunjukan di keratonnya. Prabu Subali yang tersinggung menjadi marah dan menghajar Dasamuka dengan ajian Pancasonanya. Dasamuka yang kalah pun mengatur siasat agar dapat menguasai ajian Pancasona dan sekaligus merebut Dewi Tara dari Subali. Subali pun dirayunya untuk memberikan ajian pancasona kepadanya. Subali akhirnya mau memberikan Aji Pancasona kepada Dasamuka. Dasamuka yang telah menguasai aji Pancassona bermaksud kembali menantang Subali, namun dapat dicegah oleh Wibisana.

Dasamuka yang kini memiliki ajian Pancasona menyerang Suralaya dengan maksud untuk meminta kembali Dewi Tari dari para dewa. Pertempuran pun terjadi antara wadya bala Alengka dengan para dewa. Setelah melalui pertempuran yang sengit akhirnya para dewa terdesak, dan akhirnya Batara Indra terpaksa menyerahkan Dewi Tari kepada Dasamuka.

Dengan maksud untuk mencari cara guna menghentikan keangkaramurkaan Dasamuka, Sang Hyang Jagadnata dan Batara Narada berkeliling Mayapada. Bertemulah mereka dengan Anjani yang sedang bertapa kungkum di sungai Madirda. Sang Hyang Jagadnata yang melihat keteguhan Anjani dalam bertapa pun menjadikan Anjani sebagai permaisurinya dan membawanya ke Suralaya beserta Saraba, abdinya. Di Suralaya, Dewi Anjani melahirkan anoman, yang kemudian dididik oleh Batara Bayu. Setelah besar, Hanoman diberitahukan mengenai asal muasalnya oleh Saraba, abdi ibunya.

Untuk lebih legkapnya, silahkan download komik ini disini.



Senin, 23 Desember 2013

Komik Wayang purwa 02



Untuk dapat membaca file DjVu ini, anda terlebih dahulu harus menginstal program WinDjView2.0.2 di sini.

Pada komik Wayang Purwa episode 2 ini diceritakan mengenai :

-          Negeri Medangkemulan diserbu oleh hewan-hewan perusak padi jelmaan Kala Gumarang dan anak buahnya. Untuk mengatasinya, Prabu Srimahapunggung memerintahkan Raden Pangukirgading mengatasinya. Raden Pangukirgading berhasil mengatasinya atas wejangan Prabu Srimahapunggung.
-          Sang Hyang Jagadnata dan Dewi Uma bertemu dengan Dewi Pramoni yang sedang bertapa, karena ingin bersuamikan Dewa yang paling berkuasa. Akhirnya Sang Hyang Jagadnata memindahkan sukmanya kedalam badan Dewi Uma, sehingga raganya yang cantik bersuamikan Sang Hyang Jagadnata, sedangkan jiwanya bersemayam dalam tubuh Dewi Uma (yang berwujud raksasa) dan bersuamikan Kala Gumarang.
-          Asal usul Dewi Anjani, Subali, dan Sugriwa yang berubah menjadi kera akibat berebut cupu pemberian ibunya, Dewi Indradi.
-          Asal usul kesaktian Rahwana dan Saudara-saudarinya karena anugerah yang diberikan Sang Hyang Jagadnata.
-          Pertempuran antara Rahwana dan Prabu Danareja. Rahwana kalah dan menyerahkan diri kepada Prabu Danareja. Namun disaat yang lain Rahwana berhasil menipu Prabu Danareja dan membunuhnya serta menguasai kerajaan Lokapala yang kemudian diganti namanya menjadi Alengkadirja.

-          Maesura dan Lembusura, penguasa Goa Kiskenda, yang berminat meminang anak Batara Indra, menyerbu kahyangan. Pasukan para dewa kewalahan menghadapinya, sehingga Dewa Indra terpaksa turun tangan sendiri dan berhasil memukul mundur mereka, namun sayang, Dewi Tara berhasil dibawa lari oleh Lembusura. Batara Narada meminta bantuan Subali dan Sugriwa untuk menghadapi Lembusura dan Maesasura. Ubali meminta Sugriwa membawa lari Dewi Tara, sedangkan dia menghadapi Lembusura dan Maesasura. 

Komik Wayang Purwa 01


Sebelum di download, tolong di share dulu ya?? Trims.
Dalam seri ini diceritakan asal muasal para Dewa di Kahyangan. Mulai dari para putra Sang Hyang Tunggal, yaitu Antaga (Togog), Ismaya (semar), dan Manikmaya (Sang Hyang Guru). 

Antaga dan Ismaya yang ingin menguasai Swargaloka  bertarung sengit memperebutkan tahta Swargaloka. karena tridak ada yang kalah maka mereka berusaha menelan gunung. Akibatnya, Antaga menjadi lebar mulutnya  karena mencobanya, dan Ismaya besar perutnya setelah berhasil menelan gunung tersebut. 

Antaga dan Ismaya berusaha meminta ampun kepada Sang Hyang Tunggal, dan memintanya untuk mengembalikan mereka ke wujud aslinya. Sang Hyang Tunggal mengampuni mereka, tetapi dengan syarat memberi mereka tugas yang harus dijalankan. Semar mendapat tugas untuk mengasuh manusia keturunan dewa, sedangkan Antaga mendapat tugas untuk mencegah manusia yang berniat mengganggu manusia keturunan para dewa.

Kekuasaan Swargaloka diberikan kepada Manikmaya yang kemudian bergelar Sang Hyang Guru. Karena kekuasaannya yang luar biasa, maka beliau menjadi sombong. Peringatan Antaga dan Ismaya tidak dihiraukannya. Akibatnya, beliau mendapatkan hukuman dari Sang Hyang Tunggal, yang akan didapatkannya secara berurutan. 

Raja jin Kalamertu yang berniat untuk menguasai Swargaloka menyerbu kahyangan. Serangan pasukan jin tersebut disambut oleh Togog dan Semar, sehinggga terjadilah pertempuran yang sangat seru, sedangkan raja Kalamertu dihadapi oleh Manikmaya. Dalam pertempuran tersebut, kaki Manikmaya terjepit batu di jurang dan kakinya menjadi kecil. Itulah hukumannya yang pertama. Meskipun begitu, akhirnya raja Kalamertu dapat ditaklukkannya. Sebagai bukti takluknya, Kalamertu menyerahkan kursi singgasana Mercukunda kepada Manikmaya.

Cobaan lain datang dari kerajaan jin Dahulagiri. Tiga putra raja jin Patanam yang bernama Lembu Andana, Tingkarabala, dan Balaupata menyerbu Swargaloka. Sang Hyang Guru melawan lembu Andana, dan Semar menghadapi Tingkarabala serta Togog menghadapi Balaupata. Akhirnya Sang Hyang Jagadnata melumpuhkan mereka dengan ajian Kemayan. Lembu Andana dijaikan kendaraannya dan diberi nama Lembu Andini, sedangkan kedua saudaranya diberi tugas untuk menjaga gerbang Swargaloka, Semaratangkep.

Batara Kaneka Putra, putra dari penguasa negeri Sidi Udal-Udal, Sanghyang Darmajaka berniat untuk menaklukkan Kahyangan. Karena itu dia bertapa di tengah samudera. Tapanya yang hebat mengakibatkan kawah Candradimuka bergelora. Karena itu, maka Sang Manikmaya menemuinya dan menanyakan keperluannya. Batara Kanekaputra menyampaikan keinginannya untuk menguasai alam semesta. Sang Manikmaya menyetujuinya jika Batara Kanekaputra mampu mengalahkannya. Ternyata Batara Kanekaputra kalah dan akhirnya dia mengabdi kepada Sang Hyang Guru dengan julukan Batara Narada.

Prabu Mercu dan Mercukilan yang sakti mandraguna berniat pula untuk menggulingkan Sangg Hyang Guru dari singgasananya. Mereka menyerbu Swargaloka, namun dicegat oleh Tingkarabala, dan Balaupata, sang penjaga gerbang Swargaloka. akibatnya terjadi perang tanding diantara mereka. Setalah mengalahkan kedua penjaga gerbang itu, mereka berhadapan dengan Batara Narada dan Sang Hyang Antaga. Akhirnya Sang Hyang Ismaya-lah yang dapat mengalahkan mereka berdua. Beliau mengangkat kedua raja tersebut menjadi anaknya dan mengganti nama mereka menjadi Gareng dan Dawala (Petruk). 

Sementara itu, di Merut terdapat seorang saudagar yang bernama Umaran dan Dewi Nurweni yang mempunyai anak, tetapi tak dapat disentuh karena berupa cahaya. Hanya sesekali saja dia menampakkan diri, namun tak mau disentuh oleh kedua orangtuanya. Karena jengkel, akhirnya ibunya membentaknya. Sang putra yang terkejut akhirnya melarikan diri dan melayang-layang tak tentu arah. Sang saudagar dan istrinya berusaha mengejarnya, namun tak bisa menangkapnya. Akhirnya sang bayi melayang ke puncak Mahameru. Batara Narada berusaha membantu menangkap anak ini, sayang beliau tidak dapat melakukannya. Akhirnya Sang Hyang Guru turun tangan. Dengan mengendarai Lembu Andini, dicobanya untuk menangkap bayi itu. Tetapi Sang Hyang Guru pun kewalahan. Beliau semedi, dan oleh Sang Hyang Tunggal beliau diberi sepasang tangan tambahan, sehingga mempunyai dua pasang tangan. Akhirnya dengan empat tangannya, Sang Hyang Manikmaya berhasil menangkap sang Bayi yang telah berubah menjadi sesosok wanita, Dewi Uma. Akhinya Sang Hyang Guru menikahi Dewi Uma, yang ternyata seorang wandu (banci), tetapi karena kesaktian Sang Hyang Guru maka dapat menjadi bidadari dengan segala sifat kewanitaannya. Dari dewi Uma, Sang Hyang Guru mempunyai anak Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, dan Batara Wisnu. 

Suatu Hari Sang Hyang Guru dan Dewi Uma bertamasya dengan mengendarai Lembu Andini. ditengah jalan, Sang Hyang Manikmaya berhasrat dengan Dewi Uma, namun tidak diturutinya. Akibatnya jatuhlah cahaya dari Sang Caturboja dan jatuh ke dalam samudera. Sang Hyang guru menjadi marah. Dewi Uma yang kecewa mengutuk Sang Hyang Guru, sehingga beliau menjadi bertaring. Sang Hyang Guru yang kesalpun mengutuk istrinya, sehingga perawakannya menyerupai raksasa, dan berjuluk Dewi Durga.

Sang Hyang Guru kecewa dengan perawakan Dei Uma yang telah berubah menjadi raksasa. Maka beliau pergi ke Merut untuk meminta ganti kepada Saudagar Umaran. Ditengah perjalanan beliau merasa sangat haus dan minum dari sebuah telaga. Tak dinyana, ternyata air itu beracun. Akibatnya leher Sang Hyang Manikmaya terbakar dan menjadi berwarna ungu. Itulah hukumannya yang terakhir. Sesampainya di Merut, saudagar Umaran membawanya ke seorang pendeta untuk meminta istri baru, pengganti Dewi Uma yang telah berubah menjadi seorang raksasa. Dengan semedinya, sang pendeta menciptakan seorang putri dari buah Ranti. Putri tersebut menikah dengan Sang Hyang guru dan berganti nama menjadi dewi Umakarti. Dari Dewi Umakarti, Sang Hyang Guru mempunyai tiga orang putra, yaitu Sakra, Mahadewa, dan Asmara.

Sementara itu, cahaya yang jatuh dari Sang Hyang Guru ke dalam samudera berubah menjadi bayi raksasa yang rakus. Dia memakan makhluk lajut yang ditemuinya, sehingga membuat Sang Hyang Waruna menjadi gelisah. Diperintahkannya pasukan untuk menangkap sang raksasa. Tetapi, Sang Hyang Waruna dan pasukannya dapat dikalahkan oleh raksasa tersebut. Akibatnya Sang Hyang Waruna melarikan diri ke kahyangan dan meminta bantuan kepada Sang Hyang Guru, yang kemudian memerintahkan Batara Narada dan para putera dewa untuk menangkapnya. Namun, lagi-lagi mereka kewalahan dan melarikan diri ke kahyangan. Sang raksasa yang marah pun mengejar mereka sampai kahyangan. Jingakarabala dan Balaupata yang mencoba menghalanginya pun dibuat kewalahan. Akhirnya, Sang Hyang Guru terpaksa turun tangan dan mengalahkan sang raksasa dengan ajian Kemayan. Ketika Sang Hyang Guru hendak dibunuhnya, Batara Narada mencegah dan mengatakan bahwa raksasa itu adalah putra Sang Hyang Guru sendiri dari cahayanya yang jatuh ke dalam samudera. Sang Hyang Gurupun tidak jadi membunuhnya, tetapi hanya menghukumnya dengan mencabut taring raksasa itu, dan kemudian meruubah taring tersebut menjadi keris. Raksasa itu diberi nama Batara Kala, dan keris yang berasal dari taringnya diberi nama Keris Kalanadah.

Kerakusan Batara Kala tidak berkurang. Karena itu dia meminta kepada Sang Hyang Guru untuk menccari mangsa. Sang Hyang Guru mengijinkannya dengan syarat hanya makhluk yang dipukulnya dengan gadalah yang boleh dimakannya. Batara Narada yang kecewa dengan keputusan Sang Hyang Guru yang memberikan kebebasan kepada Batara kala untuk mencari mangsa mengerahkan para dewa untuk mencegah bencana yang akan menimpa umat manusia, akkibat dari ulah Batara Kala.

Di Danau Madirda,  Batara Kala melihat Sumawit dan bermaksud untuk memangsanya. Sumawit melarikan diri ke Medangkemulan. Ditempat itu sedang ada pagelaran wayang. Sang Dalang yang adalah penjelmaan Dewa Wisnu menyembunyikan Sumawit diantara para penabuh gamelan.

Batara Kala yang lelah menjadi mengantuk oleh alunan gamelan. Saat Batara Kala mengantuk, Batara Wisnu memasukkan sebutir telur ke dalam mulutnya, sehingga Batara Kala menjadi marah. Untuk meredakan kemarahan Batara Kala, Batara Wisnu berjanji menyajikan ceritera yang lucu kepadanya. Sebagai bayarannya adalah gada yang dibawa oleh Batara Kala. Disaat mendengar ceritera sang dalang, Batara Kala menjadi lapar dan berniat menyantap seorang bayi yang tengah digendong ibunya. Batara Wisnu mengingatkannya, bahwa dia hanya boleh memangsa makhluk yang telah dipukul dengan gadanya. Batara Kala yang malu, meminta kembali gadanya dan bermaksud meneruskan perburuannya. Alih-alih memberikan gada Batara Kala, Batara Wisnu membaca berbagai ajian dan mantra sehingga Batara Kala menjadi tunduk dan mengakuinya sebagai ayah.

Setelah Batara Kala pergi, dalang dan para pemain gamelan berubah lagi menjadi dewa. Penduduk Medangkemulan meminta beliau untuk menetap dan menjadi raja atas mereka. Batara Wisnu menunjuk anaknya, Raden Srigati, menjadi raja Medangkemulan mewakilinya.

Suatu hari, Sang Hyang Guru menyampaikan kepada Batara Narada, bahwa ia menginginkan seorang putri yang berada dalam Cupu Linggamanik, yang telah meminta syarat berupa seperangkat gamelan yang bunyinya dapat menyingkirkan marabahaya. Batara Narada bersemedi dan meminta Dewi Lokawati, sang putri yang ada di dalam Cupu Linggamanik untuk keluar. Setelah Dewi Lokawati keluar, Sang Hyang Guru kembali mengutarakan keinginannya untuk memperistri Dewi Lokawati, namun sang Dewi menolak, jika syarat yang diajukannya belum terpenuhi. Sang Hyang Manikmaya menjadi marah karenanya. Sang Dewi yang ketakutan menghampiri Sang Hyang Guru untuk meminta ampun, tapi tanpa dinyana dia malah tertusuk tombak Kalaminta sehingga meninggal dan beralih rupa menjadi sebutir padi. Batara Guru yang sangat menyesal kemudian meminta kepada Batara Narada untuk mengirimkan butir padi tersebut kepada Sriganti, raja Medangkemulan, untuk ditanam.

Sang Hyang Tunggal yang mengetahui bahwa itu adalah awal dari lahirnya para keturunan dewa, memerintahkan kepada Togog dan Semar untuk turun ke mayapada. Semar ditugaskan untuk mengasuh keturunan para dewa, sedangkan Togog ditugaskannya untuk mencegah orang-orang yang akan mengganggu para keturunan dewa. Diperjalanan, Gareng dan Petruk meminta supaya Semar memberi mereka saudara yang baru sebagai teman dalam perjalanan. Untuk memenuhinya, Semar bertapa diterik matahari. Dari bayangannya, lahirlah Bagong (Cepot). Karena perawakannya yang lebih tua dari gareng dan Bagong, maka dia diangkat sebagai saudara tertua. Akhirnya Semar dan anak-anaknya memutuskan untuk tinggal di Ukirawatu.

Sementara itu, diperjalanan Togog bertemu dengan seorang temajang yang diakui sebagai anaknya dan diberi nama Sarawita. Perjalanan mereka sampai ke negri Sonyantaka, yang rajanya hendak menyerang Medangkemulan. Togog berusaha mencegahnya, namun tak dianggap. Akhirnya, dengan terpaksa Togog mengikuti kemauan Raja Bukbangkalantara.

Diperjalanan, mereka bertemu dengan Kalagumarang, yang telah berhasil menunaikan tugas dari Sang Hyang Guru untuk mencari gamelan yang diinginkan oleh Dewi Lokawati. Raja Bukbangkalantara yang takut jika Kalagumarang membantu raja Medangkemulan memerintahkan pasukannya untuk menangkap Kalagumarang. Akhirnya, karena kewalahan, Kala Gumarang membunyikan gamelan yang dibawanya, sehingga Raja Bukbangkalantara dan anakbuahnya takluk kepadanya. Setelah mengetahui maksud Raja Bukbangkalantara, Kala Gumarang memerintahkan perjalanan untuk menyerbu Medangkemulan diteruskan. Diperjalanan, dia melihat benda yang melayang di udara. Itula Dewi Srinadi yang hendak pergi ke Medangkemulan untuk menemui adiknya, Raden Sriganti. Kala Gumarangpun memerintahkan anak buahnya untuk mengejar Dewi Srinadi. Dewi rinadi yang ketakutan bersembunyi diantara tanaman padi, sedangkan Kala Gumarang dan anak buahnya berubah menjadi hewan perusak padi.

Sementara itu, Batara Guru yang mengetahui bahwa padi penjelmaan Dewi Lokawati siap dipanen, turun ke Mayapada untuk dapat merasakannya. Dewi Uma yang mengetahui maksud Sang Otipati mengikutinya beserta para bidadari untuk mencegah Sang Hyang Guru memakan padi penjelmaan Dewi Lokawati. Sang Hyang Guru berubah menjadi burung pipit untuk memakan pagi, sementara Dewi Uma menjelma menjadi rumput Kajawan yang mirip dengan padi, dan menyaru diantara tanaman padi. Akhirnya burung pipit jelmaan Sang Manikmaya mematuk rumput Kajawan jelmaan Dewi Uma sehingga dia kembali    kewujud aslinya. Sang Manikmaya menyesal dan berjanji akan mengembalikan wujud Dewi Uma ke aslinya (bidadari).


Download komik Wayang Purwa 01