
Sebelum di download, tolong di share dulu ya?? Trims.
Dalam seri ini diceritakan asal muasal para Dewa di Kahyangan. Mulai dari para putra Sang Hyang Tunggal, yaitu Antaga (Togog), Ismaya (semar), dan Manikmaya (Sang Hyang Guru).
Antaga dan Ismaya yang ingin menguasai Swargaloka
bertarung sengit memperebutkan tahta Swargaloka. karena tridak ada yang
kalah maka mereka berusaha menelan gunung. Akibatnya, Antaga menjadi lebar
mulutnya karena mencobanya, dan Ismaya besar perutnya setelah berhasil
menelan gunung tersebut.
Antaga dan Ismaya berusaha meminta ampun kepada Sang Hyang
Tunggal, dan memintanya untuk mengembalikan mereka ke wujud aslinya. Sang Hyang
Tunggal mengampuni mereka, tetapi dengan syarat memberi mereka tugas yang harus
dijalankan. Semar mendapat tugas untuk mengasuh manusia keturunan dewa,
sedangkan Antaga mendapat tugas untuk mencegah manusia yang berniat mengganggu
manusia keturunan para dewa.
Kekuasaan Swargaloka diberikan kepada Manikmaya yang
kemudian bergelar Sang Hyang Guru. Karena kekuasaannya yang luar biasa, maka
beliau menjadi sombong. Peringatan Antaga dan Ismaya tidak dihiraukannya.
Akibatnya, beliau mendapatkan hukuman dari Sang Hyang Tunggal, yang akan
didapatkannya secara berurutan.
Raja jin Kalamertu yang berniat untuk menguasai Swargaloka
menyerbu kahyangan. Serangan pasukan jin tersebut disambut oleh Togog dan
Semar, sehinggga terjadilah pertempuran yang sangat seru, sedangkan raja
Kalamertu dihadapi oleh Manikmaya. Dalam pertempuran tersebut, kaki Manikmaya
terjepit batu di jurang dan kakinya menjadi kecil. Itulah hukumannya yang
pertama. Meskipun begitu, akhirnya raja Kalamertu dapat ditaklukkannya. Sebagai
bukti takluknya, Kalamertu menyerahkan kursi singgasana Mercukunda kepada
Manikmaya.
Cobaan lain datang dari kerajaan jin Dahulagiri. Tiga putra
raja jin Patanam yang bernama Lembu Andana, Tingkarabala, dan Balaupata
menyerbu Swargaloka. Sang Hyang Guru melawan lembu Andana, dan Semar menghadapi
Tingkarabala serta Togog menghadapi Balaupata. Akhirnya Sang Hyang Jagadnata
melumpuhkan mereka dengan ajian Kemayan. Lembu Andana dijaikan kendaraannya dan
diberi nama Lembu Andini, sedangkan kedua saudaranya diberi tugas untuk menjaga
gerbang Swargaloka, Semaratangkep.
Batara Kaneka Putra, putra dari penguasa negeri Sidi
Udal-Udal, Sanghyang Darmajaka berniat untuk menaklukkan Kahyangan. Karena itu
dia bertapa di tengah samudera. Tapanya yang hebat mengakibatkan kawah
Candradimuka bergelora. Karena itu, maka Sang Manikmaya menemuinya dan
menanyakan keperluannya. Batara Kanekaputra menyampaikan keinginannya untuk menguasai
alam semesta. Sang Manikmaya menyetujuinya jika Batara Kanekaputra mampu
mengalahkannya. Ternyata Batara Kanekaputra kalah dan akhirnya dia mengabdi
kepada Sang Hyang Guru dengan julukan Batara Narada.
Prabu Mercu dan Mercukilan yang sakti mandraguna berniat
pula untuk menggulingkan Sangg Hyang Guru dari singgasananya. Mereka menyerbu
Swargaloka, namun dicegat oleh Tingkarabala, dan Balaupata, sang penjaga
gerbang Swargaloka. akibatnya terjadi perang tanding diantara mereka. Setalah
mengalahkan kedua penjaga gerbang itu, mereka berhadapan dengan Batara Narada
dan Sang Hyang Antaga. Akhirnya Sang Hyang Ismaya-lah yang dapat mengalahkan
mereka berdua. Beliau mengangkat kedua raja tersebut menjadi anaknya dan
mengganti nama mereka menjadi Gareng dan Dawala (Petruk).
Sementara itu, di Merut terdapat seorang saudagar yang
bernama Umaran dan Dewi Nurweni yang mempunyai anak, tetapi tak dapat disentuh
karena berupa cahaya. Hanya sesekali saja dia menampakkan diri, namun tak mau
disentuh oleh kedua orangtuanya. Karena jengkel, akhirnya ibunya membentaknya.
Sang putra yang terkejut akhirnya melarikan diri dan melayang-layang tak tentu
arah. Sang saudagar dan istrinya berusaha mengejarnya, namun tak bisa
menangkapnya. Akhirnya sang bayi melayang ke puncak Mahameru. Batara Narada
berusaha membantu menangkap anak ini, sayang beliau tidak dapat melakukannya.
Akhirnya Sang Hyang Guru turun tangan. Dengan mengendarai Lembu Andini,
dicobanya untuk menangkap bayi itu. Tetapi Sang Hyang Guru pun kewalahan.
Beliau semedi, dan oleh Sang Hyang Tunggal beliau diberi sepasang tangan
tambahan, sehingga mempunyai dua pasang tangan. Akhirnya dengan empat
tangannya, Sang Hyang Manikmaya berhasil menangkap sang Bayi yang telah berubah
menjadi sesosok wanita, Dewi Uma. Akhinya Sang Hyang Guru menikahi Dewi Uma,
yang ternyata seorang wandu (banci), tetapi karena kesaktian Sang Hyang Guru
maka dapat menjadi bidadari dengan segala sifat kewanitaannya. Dari dewi Uma,
Sang Hyang Guru mempunyai anak Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra,
Batara Bayu, dan Batara Wisnu.
Suatu Hari Sang Hyang Guru dan Dewi Uma bertamasya dengan
mengendarai Lembu Andini. ditengah jalan, Sang Hyang Manikmaya berhasrat dengan
Dewi Uma, namun tidak diturutinya. Akibatnya jatuhlah cahaya dari Sang
Caturboja dan jatuh ke dalam samudera. Sang Hyang guru menjadi marah. Dewi
Uma yang kecewa mengutuk Sang Hyang Guru, sehingga beliau menjadi bertaring.
Sang Hyang Guru yang kesalpun mengutuk istrinya, sehingga perawakannya
menyerupai raksasa, dan berjuluk Dewi Durga.
Sang Hyang Guru kecewa dengan perawakan Dei Uma yang telah
berubah menjadi raksasa. Maka beliau pergi ke Merut untuk meminta ganti kepada
Saudagar Umaran. Ditengah perjalanan beliau merasa sangat haus dan minum dari
sebuah telaga. Tak dinyana, ternyata air itu beracun. Akibatnya leher Sang
Hyang Manikmaya terbakar dan menjadi berwarna ungu. Itulah hukumannya yang
terakhir. Sesampainya di Merut, saudagar Umaran membawanya ke seorang pendeta
untuk meminta istri baru, pengganti Dewi Uma yang telah berubah menjadi seorang
raksasa. Dengan semedinya, sang pendeta menciptakan seorang putri dari buah
Ranti. Putri tersebut menikah dengan Sang Hyang guru dan berganti nama menjadi
dewi Umakarti. Dari Dewi Umakarti, Sang Hyang Guru mempunyai tiga orang putra,
yaitu Sakra, Mahadewa, dan Asmara.
Sementara itu, cahaya yang jatuh dari Sang Hyang Guru ke
dalam samudera berubah menjadi bayi raksasa yang rakus. Dia memakan makhluk
lajut yang ditemuinya, sehingga membuat Sang Hyang Waruna menjadi gelisah.
Diperintahkannya pasukan untuk menangkap sang raksasa. Tetapi, Sang Hyang
Waruna dan pasukannya dapat dikalahkan oleh raksasa tersebut. Akibatnya Sang
Hyang Waruna melarikan diri ke kahyangan dan meminta bantuan kepada Sang Hyang
Guru, yang kemudian memerintahkan Batara Narada dan para putera dewa untuk
menangkapnya. Namun, lagi-lagi mereka kewalahan dan melarikan diri ke
kahyangan. Sang raksasa yang marah pun mengejar mereka sampai kahyangan.
Jingakarabala dan Balaupata yang mencoba menghalanginya pun dibuat kewalahan.
Akhirnya, Sang Hyang Guru terpaksa turun tangan dan mengalahkan sang raksasa
dengan ajian Kemayan. Ketika Sang Hyang Guru hendak dibunuhnya, Batara Narada
mencegah dan mengatakan bahwa raksasa itu adalah putra Sang Hyang Guru sendiri
dari cahayanya yang jatuh ke dalam samudera. Sang Hyang Gurupun tidak jadi
membunuhnya, tetapi hanya menghukumnya dengan mencabut taring raksasa itu, dan
kemudian meruubah taring tersebut menjadi keris. Raksasa itu diberi nama Batara
Kala, dan keris yang berasal dari taringnya diberi nama Keris Kalanadah.
Kerakusan Batara Kala tidak berkurang. Karena itu dia
meminta kepada Sang Hyang Guru untuk menccari mangsa. Sang Hyang Guru
mengijinkannya dengan syarat hanya makhluk yang dipukulnya dengan gadalah yang
boleh dimakannya. Batara Narada yang kecewa dengan keputusan Sang Hyang Guru
yang memberikan kebebasan kepada Batara kala untuk mencari mangsa mengerahkan
para dewa untuk mencegah bencana yang akan menimpa umat manusia, akkibat dari
ulah Batara Kala.
Di Danau Madirda,
Batara Kala melihat Sumawit dan bermaksud untuk memangsanya. Sumawit
melarikan diri ke Medangkemulan. Ditempat itu sedang ada pagelaran wayang. Sang
Dalang yang adalah penjelmaan Dewa Wisnu menyembunyikan Sumawit diantara para
penabuh gamelan.
Batara Kala yang lelah menjadi mengantuk oleh alunan
gamelan. Saat Batara Kala mengantuk, Batara Wisnu memasukkan sebutir telur ke
dalam mulutnya, sehingga Batara Kala menjadi marah. Untuk meredakan kemarahan
Batara Kala, Batara Wisnu berjanji menyajikan ceritera yang lucu kepadanya.
Sebagai bayarannya adalah gada yang dibawa oleh Batara Kala. Disaat mendengar
ceritera sang dalang, Batara Kala menjadi lapar dan berniat menyantap seorang
bayi yang tengah digendong ibunya. Batara Wisnu mengingatkannya, bahwa dia
hanya boleh memangsa makhluk yang telah dipukul dengan gadanya. Batara Kala
yang malu, meminta kembali gadanya dan bermaksud meneruskan perburuannya.
Alih-alih memberikan gada Batara Kala, Batara Wisnu membaca berbagai ajian dan
mantra sehingga Batara Kala menjadi tunduk dan mengakuinya sebagai ayah.
Setelah Batara Kala pergi, dalang dan para pemain gamelan
berubah lagi menjadi dewa. Penduduk Medangkemulan meminta beliau untuk menetap
dan menjadi raja atas mereka. Batara Wisnu menunjuk anaknya, Raden Srigati,
menjadi raja Medangkemulan mewakilinya.
Suatu hari, Sang Hyang Guru menyampaikan kepada Batara
Narada, bahwa ia menginginkan seorang putri yang berada dalam Cupu Linggamanik,
yang telah meminta syarat berupa seperangkat gamelan yang bunyinya dapat
menyingkirkan marabahaya. Batara Narada bersemedi dan meminta Dewi Lokawati,
sang putri yang ada di dalam Cupu Linggamanik untuk keluar. Setelah Dewi
Lokawati keluar, Sang Hyang Guru kembali mengutarakan keinginannya untuk
memperistri Dewi Lokawati, namun sang Dewi menolak, jika syarat yang
diajukannya belum terpenuhi. Sang Hyang Manikmaya menjadi marah karenanya. Sang
Dewi yang ketakutan menghampiri Sang Hyang Guru untuk meminta ampun, tapi tanpa
dinyana dia malah tertusuk tombak Kalaminta sehingga meninggal dan beralih rupa
menjadi sebutir padi. Batara Guru yang sangat menyesal kemudian meminta kepada
Batara Narada untuk mengirimkan butir padi tersebut kepada Sriganti, raja
Medangkemulan, untuk ditanam.
Sang Hyang Tunggal yang mengetahui bahwa itu adalah awal
dari lahirnya para keturunan dewa, memerintahkan kepada Togog dan Semar untuk
turun ke mayapada. Semar ditugaskan untuk mengasuh keturunan para dewa,
sedangkan Togog ditugaskannya untuk mencegah orang-orang yang akan mengganggu
para keturunan dewa. Diperjalanan, Gareng dan Petruk meminta supaya Semar memberi
mereka saudara yang baru sebagai teman dalam perjalanan. Untuk memenuhinya,
Semar bertapa diterik matahari. Dari bayangannya, lahirlah Bagong (Cepot).
Karena perawakannya yang lebih tua dari gareng dan Bagong, maka dia diangkat
sebagai saudara tertua. Akhirnya Semar dan anak-anaknya memutuskan untuk
tinggal di Ukirawatu.
Sementara itu, diperjalanan Togog bertemu dengan seorang
temajang yang diakui sebagai anaknya dan diberi nama Sarawita. Perjalanan
mereka sampai ke negri Sonyantaka, yang rajanya hendak menyerang Medangkemulan.
Togog berusaha mencegahnya, namun tak dianggap. Akhirnya, dengan terpaksa Togog
mengikuti kemauan Raja Bukbangkalantara.
Diperjalanan, mereka bertemu dengan Kalagumarang, yang
telah berhasil menunaikan tugas dari Sang Hyang Guru untuk mencari gamelan yang
diinginkan oleh Dewi Lokawati. Raja Bukbangkalantara yang takut jika
Kalagumarang membantu raja Medangkemulan memerintahkan pasukannya untuk
menangkap Kalagumarang. Akhirnya, karena kewalahan, Kala Gumarang membunyikan
gamelan yang dibawanya, sehingga Raja Bukbangkalantara dan anakbuahnya takluk
kepadanya. Setelah mengetahui maksud Raja Bukbangkalantara, Kala Gumarang memerintahkan
perjalanan untuk menyerbu Medangkemulan diteruskan. Diperjalanan, dia melihat
benda yang melayang di udara. Itula Dewi Srinadi yang hendak pergi ke
Medangkemulan untuk menemui adiknya, Raden Sriganti. Kala Gumarangpun
memerintahkan anak buahnya untuk mengejar Dewi Srinadi. Dewi rinadi yang
ketakutan bersembunyi diantara tanaman padi, sedangkan Kala Gumarang dan anak
buahnya berubah menjadi hewan perusak padi.
Sementara itu, Batara Guru yang mengetahui bahwa padi
penjelmaan Dewi Lokawati siap dipanen, turun ke Mayapada untuk dapat
merasakannya. Dewi Uma yang mengetahui maksud Sang Otipati mengikutinya beserta
para bidadari untuk mencegah Sang Hyang Guru memakan padi penjelmaan Dewi
Lokawati. Sang Hyang Guru berubah menjadi burung pipit untuk memakan pagi,
sementara Dewi Uma menjelma menjadi rumput Kajawan yang mirip dengan padi, dan
menyaru diantara tanaman padi. Akhirnya burung pipit jelmaan Sang Manikmaya
mematuk rumput Kajawan jelmaan Dewi Uma sehingga dia kembali kewujud aslinya. Sang Manikmaya menyesal dan
berjanji akan mengembalikan wujud Dewi Uma ke aslinya (bidadari).
Download komik Wayang Purwa 01
Tidak ada komentar:
Posting Komentar