Senin, 23 Desember 2013

Komik Wayang Purwa 01


Sebelum di download, tolong di share dulu ya?? Trims.
Dalam seri ini diceritakan asal muasal para Dewa di Kahyangan. Mulai dari para putra Sang Hyang Tunggal, yaitu Antaga (Togog), Ismaya (semar), dan Manikmaya (Sang Hyang Guru). 

Antaga dan Ismaya yang ingin menguasai Swargaloka  bertarung sengit memperebutkan tahta Swargaloka. karena tridak ada yang kalah maka mereka berusaha menelan gunung. Akibatnya, Antaga menjadi lebar mulutnya  karena mencobanya, dan Ismaya besar perutnya setelah berhasil menelan gunung tersebut. 

Antaga dan Ismaya berusaha meminta ampun kepada Sang Hyang Tunggal, dan memintanya untuk mengembalikan mereka ke wujud aslinya. Sang Hyang Tunggal mengampuni mereka, tetapi dengan syarat memberi mereka tugas yang harus dijalankan. Semar mendapat tugas untuk mengasuh manusia keturunan dewa, sedangkan Antaga mendapat tugas untuk mencegah manusia yang berniat mengganggu manusia keturunan para dewa.

Kekuasaan Swargaloka diberikan kepada Manikmaya yang kemudian bergelar Sang Hyang Guru. Karena kekuasaannya yang luar biasa, maka beliau menjadi sombong. Peringatan Antaga dan Ismaya tidak dihiraukannya. Akibatnya, beliau mendapatkan hukuman dari Sang Hyang Tunggal, yang akan didapatkannya secara berurutan. 

Raja jin Kalamertu yang berniat untuk menguasai Swargaloka menyerbu kahyangan. Serangan pasukan jin tersebut disambut oleh Togog dan Semar, sehinggga terjadilah pertempuran yang sangat seru, sedangkan raja Kalamertu dihadapi oleh Manikmaya. Dalam pertempuran tersebut, kaki Manikmaya terjepit batu di jurang dan kakinya menjadi kecil. Itulah hukumannya yang pertama. Meskipun begitu, akhirnya raja Kalamertu dapat ditaklukkannya. Sebagai bukti takluknya, Kalamertu menyerahkan kursi singgasana Mercukunda kepada Manikmaya.

Cobaan lain datang dari kerajaan jin Dahulagiri. Tiga putra raja jin Patanam yang bernama Lembu Andana, Tingkarabala, dan Balaupata menyerbu Swargaloka. Sang Hyang Guru melawan lembu Andana, dan Semar menghadapi Tingkarabala serta Togog menghadapi Balaupata. Akhirnya Sang Hyang Jagadnata melumpuhkan mereka dengan ajian Kemayan. Lembu Andana dijaikan kendaraannya dan diberi nama Lembu Andini, sedangkan kedua saudaranya diberi tugas untuk menjaga gerbang Swargaloka, Semaratangkep.

Batara Kaneka Putra, putra dari penguasa negeri Sidi Udal-Udal, Sanghyang Darmajaka berniat untuk menaklukkan Kahyangan. Karena itu dia bertapa di tengah samudera. Tapanya yang hebat mengakibatkan kawah Candradimuka bergelora. Karena itu, maka Sang Manikmaya menemuinya dan menanyakan keperluannya. Batara Kanekaputra menyampaikan keinginannya untuk menguasai alam semesta. Sang Manikmaya menyetujuinya jika Batara Kanekaputra mampu mengalahkannya. Ternyata Batara Kanekaputra kalah dan akhirnya dia mengabdi kepada Sang Hyang Guru dengan julukan Batara Narada.

Prabu Mercu dan Mercukilan yang sakti mandraguna berniat pula untuk menggulingkan Sangg Hyang Guru dari singgasananya. Mereka menyerbu Swargaloka, namun dicegat oleh Tingkarabala, dan Balaupata, sang penjaga gerbang Swargaloka. akibatnya terjadi perang tanding diantara mereka. Setalah mengalahkan kedua penjaga gerbang itu, mereka berhadapan dengan Batara Narada dan Sang Hyang Antaga. Akhirnya Sang Hyang Ismaya-lah yang dapat mengalahkan mereka berdua. Beliau mengangkat kedua raja tersebut menjadi anaknya dan mengganti nama mereka menjadi Gareng dan Dawala (Petruk). 

Sementara itu, di Merut terdapat seorang saudagar yang bernama Umaran dan Dewi Nurweni yang mempunyai anak, tetapi tak dapat disentuh karena berupa cahaya. Hanya sesekali saja dia menampakkan diri, namun tak mau disentuh oleh kedua orangtuanya. Karena jengkel, akhirnya ibunya membentaknya. Sang putra yang terkejut akhirnya melarikan diri dan melayang-layang tak tentu arah. Sang saudagar dan istrinya berusaha mengejarnya, namun tak bisa menangkapnya. Akhirnya sang bayi melayang ke puncak Mahameru. Batara Narada berusaha membantu menangkap anak ini, sayang beliau tidak dapat melakukannya. Akhirnya Sang Hyang Guru turun tangan. Dengan mengendarai Lembu Andini, dicobanya untuk menangkap bayi itu. Tetapi Sang Hyang Guru pun kewalahan. Beliau semedi, dan oleh Sang Hyang Tunggal beliau diberi sepasang tangan tambahan, sehingga mempunyai dua pasang tangan. Akhirnya dengan empat tangannya, Sang Hyang Manikmaya berhasil menangkap sang Bayi yang telah berubah menjadi sesosok wanita, Dewi Uma. Akhinya Sang Hyang Guru menikahi Dewi Uma, yang ternyata seorang wandu (banci), tetapi karena kesaktian Sang Hyang Guru maka dapat menjadi bidadari dengan segala sifat kewanitaannya. Dari dewi Uma, Sang Hyang Guru mempunyai anak Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, dan Batara Wisnu. 

Suatu Hari Sang Hyang Guru dan Dewi Uma bertamasya dengan mengendarai Lembu Andini. ditengah jalan, Sang Hyang Manikmaya berhasrat dengan Dewi Uma, namun tidak diturutinya. Akibatnya jatuhlah cahaya dari Sang Caturboja dan jatuh ke dalam samudera. Sang Hyang guru menjadi marah. Dewi Uma yang kecewa mengutuk Sang Hyang Guru, sehingga beliau menjadi bertaring. Sang Hyang Guru yang kesalpun mengutuk istrinya, sehingga perawakannya menyerupai raksasa, dan berjuluk Dewi Durga.

Sang Hyang Guru kecewa dengan perawakan Dei Uma yang telah berubah menjadi raksasa. Maka beliau pergi ke Merut untuk meminta ganti kepada Saudagar Umaran. Ditengah perjalanan beliau merasa sangat haus dan minum dari sebuah telaga. Tak dinyana, ternyata air itu beracun. Akibatnya leher Sang Hyang Manikmaya terbakar dan menjadi berwarna ungu. Itulah hukumannya yang terakhir. Sesampainya di Merut, saudagar Umaran membawanya ke seorang pendeta untuk meminta istri baru, pengganti Dewi Uma yang telah berubah menjadi seorang raksasa. Dengan semedinya, sang pendeta menciptakan seorang putri dari buah Ranti. Putri tersebut menikah dengan Sang Hyang guru dan berganti nama menjadi dewi Umakarti. Dari Dewi Umakarti, Sang Hyang Guru mempunyai tiga orang putra, yaitu Sakra, Mahadewa, dan Asmara.

Sementara itu, cahaya yang jatuh dari Sang Hyang Guru ke dalam samudera berubah menjadi bayi raksasa yang rakus. Dia memakan makhluk lajut yang ditemuinya, sehingga membuat Sang Hyang Waruna menjadi gelisah. Diperintahkannya pasukan untuk menangkap sang raksasa. Tetapi, Sang Hyang Waruna dan pasukannya dapat dikalahkan oleh raksasa tersebut. Akibatnya Sang Hyang Waruna melarikan diri ke kahyangan dan meminta bantuan kepada Sang Hyang Guru, yang kemudian memerintahkan Batara Narada dan para putera dewa untuk menangkapnya. Namun, lagi-lagi mereka kewalahan dan melarikan diri ke kahyangan. Sang raksasa yang marah pun mengejar mereka sampai kahyangan. Jingakarabala dan Balaupata yang mencoba menghalanginya pun dibuat kewalahan. Akhirnya, Sang Hyang Guru terpaksa turun tangan dan mengalahkan sang raksasa dengan ajian Kemayan. Ketika Sang Hyang Guru hendak dibunuhnya, Batara Narada mencegah dan mengatakan bahwa raksasa itu adalah putra Sang Hyang Guru sendiri dari cahayanya yang jatuh ke dalam samudera. Sang Hyang Gurupun tidak jadi membunuhnya, tetapi hanya menghukumnya dengan mencabut taring raksasa itu, dan kemudian meruubah taring tersebut menjadi keris. Raksasa itu diberi nama Batara Kala, dan keris yang berasal dari taringnya diberi nama Keris Kalanadah.

Kerakusan Batara Kala tidak berkurang. Karena itu dia meminta kepada Sang Hyang Guru untuk menccari mangsa. Sang Hyang Guru mengijinkannya dengan syarat hanya makhluk yang dipukulnya dengan gadalah yang boleh dimakannya. Batara Narada yang kecewa dengan keputusan Sang Hyang Guru yang memberikan kebebasan kepada Batara kala untuk mencari mangsa mengerahkan para dewa untuk mencegah bencana yang akan menimpa umat manusia, akkibat dari ulah Batara Kala.

Di Danau Madirda,  Batara Kala melihat Sumawit dan bermaksud untuk memangsanya. Sumawit melarikan diri ke Medangkemulan. Ditempat itu sedang ada pagelaran wayang. Sang Dalang yang adalah penjelmaan Dewa Wisnu menyembunyikan Sumawit diantara para penabuh gamelan.

Batara Kala yang lelah menjadi mengantuk oleh alunan gamelan. Saat Batara Kala mengantuk, Batara Wisnu memasukkan sebutir telur ke dalam mulutnya, sehingga Batara Kala menjadi marah. Untuk meredakan kemarahan Batara Kala, Batara Wisnu berjanji menyajikan ceritera yang lucu kepadanya. Sebagai bayarannya adalah gada yang dibawa oleh Batara Kala. Disaat mendengar ceritera sang dalang, Batara Kala menjadi lapar dan berniat menyantap seorang bayi yang tengah digendong ibunya. Batara Wisnu mengingatkannya, bahwa dia hanya boleh memangsa makhluk yang telah dipukul dengan gadanya. Batara Kala yang malu, meminta kembali gadanya dan bermaksud meneruskan perburuannya. Alih-alih memberikan gada Batara Kala, Batara Wisnu membaca berbagai ajian dan mantra sehingga Batara Kala menjadi tunduk dan mengakuinya sebagai ayah.

Setelah Batara Kala pergi, dalang dan para pemain gamelan berubah lagi menjadi dewa. Penduduk Medangkemulan meminta beliau untuk menetap dan menjadi raja atas mereka. Batara Wisnu menunjuk anaknya, Raden Srigati, menjadi raja Medangkemulan mewakilinya.

Suatu hari, Sang Hyang Guru menyampaikan kepada Batara Narada, bahwa ia menginginkan seorang putri yang berada dalam Cupu Linggamanik, yang telah meminta syarat berupa seperangkat gamelan yang bunyinya dapat menyingkirkan marabahaya. Batara Narada bersemedi dan meminta Dewi Lokawati, sang putri yang ada di dalam Cupu Linggamanik untuk keluar. Setelah Dewi Lokawati keluar, Sang Hyang Guru kembali mengutarakan keinginannya untuk memperistri Dewi Lokawati, namun sang Dewi menolak, jika syarat yang diajukannya belum terpenuhi. Sang Hyang Manikmaya menjadi marah karenanya. Sang Dewi yang ketakutan menghampiri Sang Hyang Guru untuk meminta ampun, tapi tanpa dinyana dia malah tertusuk tombak Kalaminta sehingga meninggal dan beralih rupa menjadi sebutir padi. Batara Guru yang sangat menyesal kemudian meminta kepada Batara Narada untuk mengirimkan butir padi tersebut kepada Sriganti, raja Medangkemulan, untuk ditanam.

Sang Hyang Tunggal yang mengetahui bahwa itu adalah awal dari lahirnya para keturunan dewa, memerintahkan kepada Togog dan Semar untuk turun ke mayapada. Semar ditugaskan untuk mengasuh keturunan para dewa, sedangkan Togog ditugaskannya untuk mencegah orang-orang yang akan mengganggu para keturunan dewa. Diperjalanan, Gareng dan Petruk meminta supaya Semar memberi mereka saudara yang baru sebagai teman dalam perjalanan. Untuk memenuhinya, Semar bertapa diterik matahari. Dari bayangannya, lahirlah Bagong (Cepot). Karena perawakannya yang lebih tua dari gareng dan Bagong, maka dia diangkat sebagai saudara tertua. Akhirnya Semar dan anak-anaknya memutuskan untuk tinggal di Ukirawatu.

Sementara itu, diperjalanan Togog bertemu dengan seorang temajang yang diakui sebagai anaknya dan diberi nama Sarawita. Perjalanan mereka sampai ke negri Sonyantaka, yang rajanya hendak menyerang Medangkemulan. Togog berusaha mencegahnya, namun tak dianggap. Akhirnya, dengan terpaksa Togog mengikuti kemauan Raja Bukbangkalantara.

Diperjalanan, mereka bertemu dengan Kalagumarang, yang telah berhasil menunaikan tugas dari Sang Hyang Guru untuk mencari gamelan yang diinginkan oleh Dewi Lokawati. Raja Bukbangkalantara yang takut jika Kalagumarang membantu raja Medangkemulan memerintahkan pasukannya untuk menangkap Kalagumarang. Akhirnya, karena kewalahan, Kala Gumarang membunyikan gamelan yang dibawanya, sehingga Raja Bukbangkalantara dan anakbuahnya takluk kepadanya. Setelah mengetahui maksud Raja Bukbangkalantara, Kala Gumarang memerintahkan perjalanan untuk menyerbu Medangkemulan diteruskan. Diperjalanan, dia melihat benda yang melayang di udara. Itula Dewi Srinadi yang hendak pergi ke Medangkemulan untuk menemui adiknya, Raden Sriganti. Kala Gumarangpun memerintahkan anak buahnya untuk mengejar Dewi Srinadi. Dewi rinadi yang ketakutan bersembunyi diantara tanaman padi, sedangkan Kala Gumarang dan anak buahnya berubah menjadi hewan perusak padi.

Sementara itu, Batara Guru yang mengetahui bahwa padi penjelmaan Dewi Lokawati siap dipanen, turun ke Mayapada untuk dapat merasakannya. Dewi Uma yang mengetahui maksud Sang Otipati mengikutinya beserta para bidadari untuk mencegah Sang Hyang Guru memakan padi penjelmaan Dewi Lokawati. Sang Hyang Guru berubah menjadi burung pipit untuk memakan pagi, sementara Dewi Uma menjelma menjadi rumput Kajawan yang mirip dengan padi, dan menyaru diantara tanaman padi. Akhirnya burung pipit jelmaan Sang Manikmaya mematuk rumput Kajawan jelmaan Dewi Uma sehingga dia kembali    kewujud aslinya. Sang Manikmaya menyesal dan berjanji akan mengembalikan wujud Dewi Uma ke aslinya (bidadari).


Download komik Wayang Purwa 01

Tidak ada komentar:

Posting Komentar